Kobaran api boleh padam saat perkemahan berakhir, tetapi semangat seorang Pramuka tidak boleh ikut redup. Pesan itulah yang disampaikan Pembina Upacara Api Unggun, M. Miftakhul Atiq, saat memimpin upacara api unggun pada Perkemahan Penerimaan Tamu Ambalan (PPTA) 2026 di Rejosari Timur.
Guru yang menjabat Wakil Kepala Bidang Kesiswaan menegaskan bahwa api unggun dalam Gerakan Pramuka bukanlah sebuah ritual maupun persembahan. Menurutnya, api unggun merupakan simbol kobaran semangat yang harus senantiasa hidup dalam diri setiap anggota Pramuka.
“Api unggun bukanlah persembahan, melainkan simbol kobaran semangat dalam jiwa seorang Pramuka. Semangat itu harus terus menyala untuk belajar, berkarya, berbakti, dan mengabdi kepada agama, bangsa, dan masyarakat,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh tamu ambalan agar tidak hanya menghayati makna api unggun selama berada di bumi perkemahan, tetapi juga membawa semangat tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, persaudaraan, serta kepedulian terhadap sesama, kata dia, merupakan ruh yang harus terus dijaga oleh setiap Pramuka.
Upacara api unggun berlangsung khidmat dengan diawali prosesi penyalaan api yang menjadi simbol berkobarnya semangat kepramukaan. Seluruh peserta mengikuti rangkaian upacara dengan tertib, sementara cahaya api yang menerangi lapangan perkemahan menciptakan suasana hangat dan mempererat kebersamaan di antara tamu ambalan, pembina, dan panitia.
Usai upacara, kemeriahan malam puncak berlanjut dengan penampilan Marching Band Gita Kartika Persada MA NU 01 Banyuputih. Atraksi yang memadukan alunan musik, formasi yang dinamis, dan kekompakan para personel berhasil memukau peserta serta tamu undangan. Tepuk tangan meriah mengiringi setiap penampilan yang menambah semarak malam api unggun.
Kegiatan api unggun menjadi salah satu agenda puncak dalam rangkaian PPTA 2026. Melalui momentum tersebut, panitia berharap para tamu ambalan tidak hanya memperoleh pengalaman berkemah, tetapi juga semakin memahami makna kepramukaan sebagai bekal untuk menjadi pribadi yang berkarakter, tangguh, serta siap mengabdi di tengah masyarakat.
Pewarta: Ahmad Wildan Attaqi & M. Raykhan Raditya N.
