Proses menjadi Bantara di Gugus Depan MA NU 01 Banyuputih tidaklah instan. Seperti padi yang harus melalui tahapan panjang sebelum menguning dan siap dipanen, demikian pula 41 calon Bantara yang mengikuti Pendadaran 1 sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kepemimpinan.
Pendadaran tersebut dirancang bukan sekadar formalitas, tetapi sebagai ruang menempa mental, kedisiplinan, serta tanggung jawab para penegak. Sejak awal kegiatan, peserta telah dihadapkan pada serangkaian agenda yang menguji materi, ketahanan fisik dan kekompakan tim.
Pembina Pramuka MA NU 01 Banyuputih, Muhammad Asrofi, mengibaratkan proses pendadaran seperti menanam padi di sawah. Menurutnya, seorang Bantara tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui tahapan yang panjang dan penuh kesabaran.
“Menanam padi itu tidak langsung panen. Ada proses membajak sawah, menyiapkan benih, menanam, merawat, hingga akhirnya menguning dan siap dipetik. Begitu juga calon Bantara. Mereka harus ditempa, diuji, dirawat nilai-nilainya, agar kelak benar-benar matang dan bermanfaat,” ujarnya saat upacara penutupan Pendadaran 1 pada Selasa (17/2/2025).
Ia menambahkan, pendadaran merupakan tahap persemaian karakter. Jika proses ini dijalani dengan sungguh-sungguh, maka akan lahir pribadi-pribadi yang kuat, rendah hati, dan siap memimpin.
Rangkaian kegiatan meliputi wide game dengan sistem pos yang menguji pengetahuan dan keterampilan kepramukaan, uji SKU (Syarat Kecakapan Umum), hingga perjalanan jalan kaki dari MA NU 01 Banyuputih menuju SD N Sembung dan kembali lagi ke madrasah. Perjalanan pulang-pergi tersebut menjadi simbol ketekunan dan daya tahan, sebagaimana petani yang merawat padinya tanpa mengenal lelah.
Dalam wide game, para peserta diuji melalui berbagai tantangan materi, kepemimpinan, serta kerja sama tim. Sementara dalam uji SKU, pembina memastikan setiap calon Bantara benar-benar memenuhi standar kecakapan yang telah ditentukan.
Salah satu peserta mengaku kegiatan ini menjadi pengalaman berharga. Rasa lelah selama perjalanan dan tantangan di setiap pos justru mempererat kebersamaan antaranggota. “Kami belajar bahwa proses itu penting. Tidak ada hasil tanpa perjuangan,” katanya.
Melalui Pendadaran 1 ini, diharapkan lahir Bantara-Bantara yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga matang secara karakter—seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk, dan memberi manfaat bagi sekitarnya.