Menjaga dan meningkatkan kualitas puasa di bulan Ramadhan adalah hal yang sangat penting. Puasa tidak sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan seluruh anggota tubuh mata, telinga, lisan, tangan, kaki, dan hati dari perbuatan dosa, agar ibadah yang dijalankan benar-benar bernilai pahala di sisi Allah Swt.
Hakikat puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an surat Surat Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة:183)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
Manusia yang bertakwa merupakan harapan utama yang diperoleh seseorang setelah menjalankan ibadah puasa, maka Nabi memerintahkan bagi orang yang berpuasa untuk menghindari ucapan kotor dan tindakan yang bodoh.
Lalu bagaimana agar puasa kita benar-benar berkualitas?
Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa orang-orang saleh adalah puasa yang tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dari dosa. Beliau menyebutkan enam cara untuk mencapainya.
Pertama, menjaga pandangan dari hal-hal yang dilarang dan dari sesuatu yang melalaikan hati dari mengingat Allah. Ramadhan adalah saat yang tepat untuk mengarahkan mata pada hal-hal yang bermanfaat, seperti membaca Al-Qur’an, mengkaji kitab, dan menambah ilmu.
Kedua, menjaga lisan dari dusta, ghibah, mencela, dan ucapan yang menyakiti. Puasa menjadi momentum melatih diri agar lebih banyak berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan memilih diam daripada berkata buruk.
Ketiga, menjaga pendengaran dari hal-hal yang diharamkan. Apa yang haram diucapkan, haram pula didengar. Maka, gunakan telinga untuk mendengar lantunan ayat suci, pengajian, dan nasihat agama agar puasa semakin bermakna.
Keempat, menjaga seluruh anggota badan dari perbuatan maksiat. tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya hendaknya diarahkan pada aktivitas yang diridhai Allah, seperti melangkah ke masjid, mushala, atau majelis ilmu.
Kelima, tidak berlebihan saat berbuka. Makan secara berlebihan justru bertentangan dengan tujuan puasa, yaitu menundukkan hawa nafsu dan melemahkan godaan setan.
Keenam, menghadirkan rasa takut dan harap saat berbuka: takut jika puasa tidak diterima, dan berharap penuh pada rahmat Allah.