Dahulu, Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan lembaran kertas sebagai senjata untuk meruntuhkan tembok keterbatasan bagi kaumnya. Gagasan-gagasannya tentang pendidikan, kesetaraan, dan kebebasan berpikir kemudian dihimpun dalam karya monumental Habis Gelap Terbitlah Terang, yang hingga kini masih relevan. Di era sekarang, perjuangan tersebut telah bertransformasi ke dalam bentuk yang lebih dinamis, di mana perangkat digital dan koneksi internet menjadi medium utama bagi Generasi Z untuk meneruskan api semangat perubahan.
Data berdasarkan laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dirilis awal 2024, menunjukkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 221,56 juta jiwa pengguna internet pada 2024, dengan penetrasi internet mencapai sekitar 79,5 persen dari total populasi 278,69 jiwa. Mayoritas pengguna ini berasal dari kelompok usia muda, termasuk Gen Z, yang dikenal sebagai digital native.
Namun, tingginya akses ini tidak selalu diiringi dengan kecakapan literasi digital yang memadai. Survei Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Katadata Insight Center (2022) mencatat bahwa indeks literasi digital Indonesia berada pada angka sekitar 3,54 dari skala 5 kategori “sedang”. Ini menunjukkan bahwa masih ada ruang besar untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memahami, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi digital secara kritis.
Menjadi “Kartini masa kini” bagi generasi muda bukan lagi tentang melawan pingitan fisik, melainkan bagaimana memerdekakan diri dari keterbatasan informasi, hoaks, dan pola pikir sempit melalui penguasaan literasi digital. Di tengah banjir informasi, kecakapan digital harus dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis. Tanpa itu, ruang digital justru bisa menjadi ladang subur bagi misinformasi, ujaran kebencian, hingga polarisasi sosial.
Gen Z yang mewarisi nilai-nilai Kartini tidak akan menggunakan jempolnya untuk hal negatif, melainkan untuk menyebarkan gagasan konstruktif, edukatif, dan inspiratif. Etika bermedia sosial menjadi cerminan budi pekerti luhur yang tetap relevan di tengah kemajuan teknologi. Dalam konteks ini, literasi digital tidak hanya mencakup kemampuan teknis, tetapi juga mencakup etika, budaya, dan tanggung jawab dalam berinteraksi di ruang digital.
Lebih jauh, literasi digital yang kuat akan melahirkan karya nyata. Banyak anak muda Indonesia yang kini memanfaatkan platform digital untuk berwirausaha, membangun komunitas, hingga mengkampanyekan isu-isu sosial seperti pendidikan, lingkungan, dan kesetaraan gender nilai-nilai yang sejalan dengan semangat Kartini. Platform seperti media sosial, blog, dan kanal video telah menjadi “pena baru” bagi generasi masa kini untuk menyuarakan perubahan.
Pada akhirnya, semangat Kartini menemukan relevansinya dalam bentuk baru: keberanian berpikir kritis, kemampuan beradaptasi, dan integritas dalam menggunakan teknologi. Mari jadikan literasi digital sebagai pelita untuk terus “menerbitkan terang”—membawa kemajuan bagi bangsa melalui generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak dan beretika dalam dunia digital.
Penulis: Safa Azzahra