manubanyuputih.id
Belajar di dalam ruang kelas sudah menjadi hal yang biasa dilakukan siswa-siswi. Berbeda dengan Program peminatan (Promin) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MA NU) 01 Banyuputih, Batang yang dipimpin oleh Achmad Mashfufi, M.Pd melakukan kegiatan pembelajaran di luar kelas pada Minggu (7/8/2022).

Program peminatan tersebut mengadakan kegiatan Pembelajaran Kolaborasi Lapangan (PKL) di tiga lokasi Kota Atlas (sebutan lain Kota Semarang). Pembelajaran itu dilakukan dengan mengunjungi Museum Ranggawarsita, Grand Maerokoco dan Mangrove Center yang diikuti oleh dua puluh peserta didik Promin IPS MA NU 01 Banyuputih yang meraih peringkat satu, dua dan tiga kelas XI (sebelas) dan XII (dua belas).

Achmad Mashfufi, M.Pd selaku Kepala Promin IPS MA NU 01 Banyuputih mengatakan kegiatan PKL merupakan bentuk pembelajaran yang terintegrasi dari mata pelajaran rumpun IPS, seperti Geografi, Ekonomi, Sosiologi dan Sejarah.

“Tujuan pertama ke Museum Ranggawarsita, disana peserta didik mendapatkan ilmu berupa benda-benda sejarah, artefak, sejarah peristiwa kemerdekaan, temuan batuan geologi, dan kebudayaan di Indonesia. Tujuan kedua Grand Maerokoco, dimana didalam anjungan terdapat profil kabupaten, potensi dan landmark di tiap-tiap daerah. Tujuan ketiga ke Hutan Mangrove, disini sambil dijelaskan mengenai karakteristik hutan mangrove, fungsi dan manfaat mangrove,” kata guru yang mengajar Geografi.

Menurut Mashfufi, kegiatan PKL termasuk program kerja yang paling diminati oleh siswa-siswi IPS. Kedepannya kegiatan PKL akan terus kita agendakan dengan inovasi dan tujuan yang lebih menarik lagi. Pesertanya kedepan tidak hanya yang prestasi secara akademik, tapi juga yang non akademik akan kita ajak sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang diraih,”

“Setelah mengikuti kegiatan peserta mendapatkan pengalaman, pelajaran yang didapat dari melihat keadaan langsung,” tuturnya.

“Perasaan setelah mengikuti kegiatan PKL di Semarang saya merasa senang karena mendapatkan suatu pengalaman dan suatu pembelajaran kongkrit dari materi Geografi dan Sejarah, yang tidak bisa saya dapatkan melalui LKS. Harapan saya untuk kedepannya kegiatan PKL bisa dilaksanakan lagi dengan destinasi tentang sejarah di daerah lain,” ujar Salma salah satu peserta yang mengikuti program PKL.

Share this.
Scroll to Top