Fenomena ‘Generasi Mabar’: Saat Rangking di Game Menggeser Nilai Sekolah

Di era digital yang semakin intens, definisi prestasi di kalangan remaja Indonesia mengalami pergeseran drastis. Fenomena mabar (main bareng) dalam game online seperti Mobile Legends, Free Fire, hingga PUBG Mobile kini tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan telah menjadi arena pembentukan identitas dan pencarian validasi sosial yang baru. Akibatnya, ranking dalam game sering kali dianggap lebih bergengsi dan penting dibandingkan nilai rapor di sekolah.

Fenomena ini melahirkan apa yang disebut sebagai “Generasi Mabar”. Bagi generasi ini, mencapai peringkat Mythic atau Grandmaster dalam game memberikan kepuasan instan sekaligus pengakuan dari teman sebaya—sesuatu yang jarang didapatkan hanya dari nilai A dalam mata pelajaran seperti matematika.

Galih, seorang siswa MANU 01 Banyuputih, mengaku lebih antusias mengejar level dalam game daripada belajar.
“Kalau di sekolah dapat nilai bagus, ya senang, tapi biasa saja. Tapi kalau rank game naik, apalagi bareng tim, rasanya keren banget. Teman-teman satu kelas jadi segan dan ngajak main bareng,” ujarnya.

Baca juga :  Peringatan Isra' Mi'raj: Kader IPNU IPPNU MA NU 01 Banyuputih Ditekankan untuk Menjaga Shalat

Pandangan ini mewakili banyak remaja saat ini. Penelitian menunjukkan bahwa game online menyediakan reward system yang instan. Otak remaja lebih cepat merespons hadiah langsung—seperti kemenangan atau kenaikan pangkat dalam game—dibandingkan dengan nilai akademis yang manfaatnya baru terasa di masa depan.

Namun, fenomena ini tidak datang tanpa risiko. Siswa yang menghabiskan waktu terlalu lama untuk bermain game cenderung mengalami penurunan kemampuan akademik. Kecanduan game online berlebihan, yang sering disebut sebagai game disorder, dapat menyebabkan pengabaian tugas sekolah, menurunkan konsentrasi, serta mengganggu pola tidur.

Tidak sedikit remaja yang terjebak menjadi “generasi nokturnal”, yaitu mereka yang aktif bermain game hingga larut malam dan kemudian tertidur saat jam pelajaran di sekolah.

“Jika game online dimainkan secara berlebihan, tentu sangat mengganggu proses pembelajaran. Saya sudah mendapati penurunan fokus pada anak didik yang kecanduan,” ujar Bu Mutmainah, guru BK yang mengamati pergeseran fokus siswa.

Baca juga :  Disparpora Batang Gelar Lomba Stand Up Comedy di MA NU 01 Banyuputih

Menanggapi fenomena ini, orang tua perlu menyikapinya dengan bijak, bukan sekadar melarang. Penerapan batasan penggunaan gadget serta pengaturan waktu yang terstruktur antara bermain dan belajar menjadi kunci.

“Orang tua harus mendampingi, mengawasi, dan menjelaskan dampak baik maupun buruknya. Game online sudah menjadi bagian dari perkembangan zaman, kuncinya adalah keseimbangan,” tambah Bu Mutmainah.

Fenomena “Generasi Mabar” menunjukkan bahwa dunia virtual telah menjadi panggung sosial baru bagi remaja. Tantangannya kini adalah bagaimana mengarahkan energi besar yang mereka miliki dalam dunia game agar tetap selaras dengan pendidikan formal, sehingga tidak ada potensi yang terbuang sia-sia hanya demi angka semu di layar ponsel.

Pewarta: Sinta Irgi Suryani

Share this.

Leave a Comment

Scroll to Top