Oleh : Izazul Huda, S.Pd.
(Guru SKI MA NU 01 Banyuputih)

Setiap kegiatan belajar mengajar tentu mempunyai tujuan pembelajaran agar tercapai keberhasilan pembelajaran, baik dalam aspek kompetensi siswa dan terwujudnya sistem pembelajaran yang maksimal. Dalam mencapai sebuah tujuan tentunya memerlukan banyak langkah dan pendekatan yang perlu dilakukan.  Pendekatan belajar dapat diartikan sebagai titik tolak dan sudut pandang terhadap proses pembelajaran, karena keberhasilan pembelajaran sangat berpengaruh dari adanya pendekatan yang guru lakukan. Dalam pembelajaran, guru dapat menjadikan siswa sebagai objek pembelajaran secara langsung, yaitu guru membimbing siswa untuk berperan aktif dalam proses belajar mengajar.

Pada dasarnya, konsep belajar mengajar adalah suatu feed back antara guru, siswa, dan materi pembelajaran. Guru bisa memposisikan diri sebagai fasilitator dalam menyampaikan materi pembelajaran, namun tidak menutup kemungkinan bahwa siswa bisa berinteraksi secara langsung dengan materi pembelajaran.  Antara guru dan siswa juga harus mempunyai hubungan baik dalam kegiatan belajar mengajar.

Faktanya, banyak terjadi kegagalan dalam proses belajar mengajar karena kurangnya interaksi dan hubungan yang harmonis antara guru dengan siswa, sehingga menyebabkan siswa menjadi kurang bersemagat dalam belajar. Tidak dipungkiri bahwa kepiawaian guru dalam menyampaikan materi merupakan pokok penting tersampaikannya materi dengan baik. Guru merupakan sosok yang sangat bertanggung jawab dalam proses pendidikan. Guru juga harus mempunyai sikap yang baik sebagai contoh dan teladan untuk siswa.

Dalam lingkup lingkungan sekolah, guru dan siswa sering disebut sebagai keluarga, dimana guru merupakan orang tua di lingkungan sekolah. Tentunya sebagai orang tua, guru mempunyai peran yang sangat besar terhadap perkembangan anak-anaknya, baik perkembangan intelektual maupun perkembangan karakter. Dari hal ini sudah sangat jelas bahwa hubungan yang baik antara guru dan siswa dapat berpengaruh terhadap kegiatan belajar mengajar.

Dengan adanya hubungan yang harmonis antara guru dan siswa juga dapat berdampak pada tingkat kehangatan, menjadikan timbal balik yang baik, dan menjadikan siswa menjadi patuh serta memiliki rasa hormat kepada guru. Selain itu, hubungan yang harmonis juga menjadi sebuah nilai positif di lingkungan sekolah dalam proses belajar mengajar, guru juga bisa dengan senang hati membantu siswa dalam menghadapi  permasalahan yang dihadapinya di lingkungan sekolah.

Dari hal tersebut, maka tidak cukup interaksi antara guru dan siswa terbatas dalam ruang kelas atau pada saat kegiatan belajar mengajar (KBM) saja. Perlu adanya interaksi yang lebih antara guru dan siswa di lingkungan sekolah. Hal ini diwujudkan dengan adanya pendekatan di luar kelas. Pendekatan diluar kelas dapat dilakukan oleh guru disela-sela sebelum atau sesudah melaksanakan kegiatan belajar mengajar, sekedar untuk berbincang santai dengan siswa atau memberikan motivasi kepada siswa dengan kehangatan dan keakraban. Hal ini dapat memacu semangat siswa dalam belajar dan memberikan kenyamanan kepada siswa di lingkungan sekolah, sehingga siswa merasa senang, lebih rajin dalam belajar, dan tentunya akan tercapai tujuan kegiatan belajar mengajar. (mabyp/umi)

Share this.
Scroll to Top
Scroll to Top