Siapa yang ingin terlambat masuk sekolah? Hampir tidak ada. Namun kenyataannya, banyak siswa yang masih sering datang setelah bel berbunyi. Entah karena bangun kesiangan, terlalu santai di rumah, atau berangkat tanpa perhitungan waktu yang matang.
Jika ingin terlambat masuk sekolah, sebenarnya caranya cukup mudah. Pertama, biasakan tidur larut malam. Bermain ponsel hingga tengah malam akan membuat tubuh lelah dan sulit bangun pagi. Akibatnya, ketika alarm berbunyi, keinginan untuk menekan tombol “tunda” terasa jauh lebih kuat daripada segera bangun.
Kedua, jangan menyiapkan perlengkapan sekolah sejak malam hari. Biarkan saja buku, seragam, atau sepatu belum siap. Dengan begitu, pagi hari akan diisi dengan mencari-cari barang yang tercecer di berbagai tempat. Waktu pun habis sebelum sempat berangkat.
Ketiga, berangkatlah mepet dengan jam masuk sekolah. Jangan pernah memperhitungkan kemungkinan macet, hujan, atau kendala di jalan. Dengan cara ini, peluang datang terlambat akan semakin besar.
Keempat, biasakan melakukan banyak hal di pagi hari. Sarapan terlalu lama, bermain ponsel, atau menonton televisi akan membuat waktu berlalu tanpa terasa. Tanpa disadari, jam sudah menunjukkan waktu masuk sekolah.
Tentu saja, cara-cara di atas sebenarnya bukan untuk ditiru. Justru sebaliknya, itu adalah gambaran kebiasaan yang sering membuat seseorang datang terlambat. Datang tepat waktu ke sekolah merupakan bentuk disiplin dan tanggung jawab sebagai pelajar.
Mungkin ada pelajar yang bertanya, mengapa kita harus disiplin waktu? Bukankah terlambat beberapa menit bukan masalah besar?
Jawabannya bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Seorang sopir bus harus berangkat tepat waktu agar penumpangnya tidak terlambat sampai tujuan. Seorang dokter harus datang sesuai jadwal karena pasien sudah menunggu. Seorang karyawan juga datang lebih awal agar gajinya tidak dipotong atau bahkan malah bisa dipecat. Jika semua orang datang sesuka hati, banyak pekerjaan tidak akan berjalan dengan baik.
Imam Syafi’i pernah mengatakan bahwa waktu itu ibarat pedang, jika tidak dipergunakan dengan baik, maka ia akan menebasmu. Ungkapan tersebut membuktikan begitu berbahayanya waktu yang terbuang sia-sia. Maksudnya, siapa yang tidak pandai mengatur waktunya akan merugi sendiri.
Disiplin sebenarnya adalah kebiasaan kecil yang dilatih terus-menerus. Benjamin Franklin pernah mengatakan, “You may delay, but time will not.” Artinya, seseorang boleh saja menunda-nunda, tetapi waktu tidak pernah menunggu siapa pun. Karena itu, kebiasaan menghargai waktu sejak sekolah menjadi bekal penting untuk masa depan.
Tokoh ulama besar, Imam Al-Ghazali, juga mengingatkan bahwa waktu adalah modal utama manusia. Ia menekankan bahwa orang yang menyia-nyiakan waktunya akan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri dan menambah ilmu.
Sementara itu, motivator terkenal Zig Ziglar pernah menyampaikan bahwa kesuksesan bukanlah hasil dari satu tindakan besar semata, melainkan akumulasi dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Jadi keberhasilan sering kali lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Datang tepat waktu adalah salah satu kebiasaan kecil yang tampak sederhana, tetapi sangat berpengaruh dalam membentuk karakter seseorang.
Karena itu, kebiasaan datang tepat waktu ke sekolah tidak sekadar untuk menghindari teguran dari guru. Lebih dari itu, kebiasaan ini melatih disiplin yang kelak sangat berguna dalam kehidupan.